Selamat Datang Di Blog Sruweng Dan Terimakasih Atas Kunjungannya Semoga Bermanfaat
Senin, 19 Desember 2011
Saya Seorang Perantau
Di hari sabtu, saya memutuskan pergi ke bengkel untuk melakukan service rutin motor saya. Mungkin karena belum terlalu siang ketika saya tiba di sana, bengkel tersebut belum banyak didatangi orang. Saya pun langsung dilayani dan motor saya langsung diservice. Sekitar 30-45 menit kemudian, motor saya selesai diservice. Karena motor saya sudah kotor dan perlu dibersihkan, saya pun menuju tempat penyucian motor yang tak jauh dari bengkel. Ketika sampai di tempat pencucian motor, keadaannya tak beda jauh dengan bengkel tadi. Masih sepi. Hanya terlihat satu motor yang sedang dicuci. Tiga orang pegawai terlihat menunggu pelanggan yang datang. Salah satu dari mereka langsung membawa motor saya ke tempat pencucian. Lalu saya pun menunggu. Untuk menghilangkan kesendirian, saya pun mendekati salah seorang pegawai yang sedang melepas lelah setelah menyelesaikan tugasnya. Saya bertanya kepadanya, "Pegawai di sini ganti-ganti terus ya mas? Soalnya setiap saya ke sini selalu melihat wajah-wajah yang lain dari sebelumnya." "Saya tidak tahu mas, saya baru datang," jawab pegawai tersebut. Saya memang bukan orang pandai untuk memecah suasana agar tidak kaku. Akhirnya saya melanjutkan bertanya, "Asalnya dari mana mas?" Pegawai tersebut menjawab dari Kebumen, tepatnya Kecamatan Sruweng Desa Condong Campur. Ia datang ke Bandung karena diajak temannya yang kini sama-sama bekerja di tempat pencucian tersebut. Keduanya datang ke Bandung karena merasa di Kebumen, tempat asal mereka sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Mereka berharap di Bandung ini akan mendapatkan rezeki yang halal untuk menghidupi keluarga yang ditinggalkan di kampung halaman. Sebelum datang ke Bandung, pegawai yang saya ajak bicara itu sebenarnya sudah memiliki pekerjaan sebagai sopir pribadi. Namun akhir bulan lalu, SIM-nya mati dan dia tidak ada biaya untuk memperpanjang. Sedangkan majikannya tidak memberikan jalan keluar dengan memberikan tambahan uang yang dia perlukan. Suatu sikap yang jauh dari harapannya. Akhirnya ia pun berhenti dan memutuskan menerima ajakan temannya ikut ke Bandung. Hari-harinya di Bandung ia lalui sebagai pencuci motor. Ketika saya tanyakan bagaimana perjanjian kerja dengan bos pemilik tempat pencucian tersebut, ia menjawab belum tahu. Saya berpikir sejenak, sudah bekerja tapi belum tahu apa yang akan dia terima. "Mas sudah ke mana aja setelah tiba di Bandung?" kembali saya mengajukan pertanyaan. "Belum kemana-mana, baru di tempat ini," jawabnya. Ia pun melanjutkan bahwa akan bekerja apa saja, asalkan halal. Sebuah keinginan yang mulia, semoga saja ia segera mendapatkan pekerjaan dengan upah yang lebih baik dan tentu saja yang halal demi keluarga yang ia tinggalkan jauh di seberang sana. Dan pagi ini saya masih melihat dia melakukan pekerjaan : mencuci motor, dan saya juga sebagai seorang perantau dari desa Condong Campur Kecamatan Sruweng Kabupaten Kebumen sudah merasakan sendiri betapa beratnya hidup di perantauan, untuk menghidupi keluarganya. Inilah Cerita saya sampai sekarang, dan saya juga belum tau apa saya mau hidup di perantauan atau kembali ke desa,,entahlah hanya waktu yang akan menentukan.
Senin, 21 November 2011
WONG CONDONG CAMPUR MLEBU FACEBOOK
Wong Condong Campur Mlebu Facebook, kepriwe jere siki bisnis jual beli Galengan he he he, jan mandan males kayane, tapi mau mbengi aku ora bisa turu babar blas, lah jejel iseng2 chat ehhh mbok menawa ulih prawan ting ting, njurane wis mlebu pirang2 chanel koh ora ana sing tek geleti, lah ya wis tek tutup . aku iseng iseng buka2 blog tek utak atik eh sue sue pengin ngeblog maning.. ya kaya kae apa anane. wis nyong arep meng mesjid kiye, warga KARANG JAMBE akeh sing wis pada sukses, ya sukses dadi tukang macul, dadi tukang ngaduk semen, dadi tukang ngarit, dadi tukang dopokan dadi tukang mbakar budin, dadi juragan lele, dadi Juragan martabak malah siki wis tambah pada maju, warga KARANG JAMBE wis ana sing dadi guru (pendidik), ana sing kerja nang luar negri (TKI), Moga-moga bisa nggawa manfaat apik nggo wilayahe KARANG JAMBE harapane, Wilayahe Dewek tambah kompaklan tambah maju, Mangan ora mangan asal kumpul wis ngumpul ko ra mangan-mangan ya kebangeten.
Nyuwun pangapunten, gubug puniko sampun pindah wonten mriki Klik nang kene mlebu group Condong Campur, Kulo aturi pinarak.. Sumonggo..
Kamis, 17 November 2011
MAKANAN KHAS PANDANSARI GOLAK
Ibu Tursiyem warga Desa Pandansari Kecamatan Sruweng, Kebumen memilih berdagang Enggeng atau Golak untuk menambah ekonomi keluarga. Makanan khas Kebumen ini menjadi salah satu tumpuan utama ekonomi keluarga, dan merupakan sebagai pekerjaan sehari-harinya. Dari hasil berjualan Enggeng ini sebagian digunakan untuk membiayai anak perempuan satu-satunya yang masih duduk di bangku MTS kelas II. Dengan ditemani sang suami, Ibu Tursiyen ini berjualan Enggeng di tepi jembatan Pejagoan. Lebih tepatnya di sebelah selatan alun-alun Kebumen. Tempatnya sangat sederhana, hanya mengambil trotoar sebagai tempat lapak kemudian ditutup dengan plastik. Enggeng atau Golak Ibu Tursiyem dibuatnya sendiri dari bahan baku singkong yang sudah dihaluskan. Singkong tersebut ia peroleh langsung dari para petani di desanya. Menurutnya singkong dari petani jauh lebih berkualitas dibandingkan singkong yang sudah masuk ke Industri. Biasanya sudah dicampuri dengan bahan pengawet. Tanpa lelah berkerja dari pagi sampai siang Ibu Tursiyem menbuat racikan bahan Enggeng atau Golak. Ibu Tursiyem memasarkan Enggeng sore hari, dari pukul 16.00 hingga 23.00 WIB. Setiap harinya Ibu Tursiyem rata-rata menghabiskan 40 kg singkong. Dari situ ia bisa mengambil keuntungan bersih sekitar Rp 20.000, sudah dengan pengeluaran membeli minyak goreng dan Gas untuk memasak. Satu ikat Enggeng atau Golak ini dijual dengan harga Rp 2000. Meskipun tepat berada di bibir jalan, ibu Tursiyem nampaknya sudah tidak ada rasa takut jika sewaktu-waktu terjadi kecelakaan di jalan tersebut.
Langganan:
Postingan (Atom)


