Selamat Datang Di Blog Sruweng Dan Terimakasih Atas Kunjungannya Semoga Bermanfaat

Sabtu, 01 Oktober 2011

BUDIDAYA IKAN GURAMEH DI SRUWENG

 BUDIDAYA IKAN GURAMEH, Ikan gurameh ternyata cuku penak untuk dikonsumsi karena dari rasa dagingnya yang khas ditambah tulangnya yang sedikit.Di daerah kebumen budidaya ikan gurameh ternyata cukup meyakinkan karena di daerah kebumen,faktor cuaca dan kualitas air tanah nya cukup baik untuk membudidayakan ikan gurameh. Ikan gurameh ternyata tidak memerlukan perawatan yang khusus,hanya perlu memperhatikan kebersihan air tanah yang akan dipergunakan untuk pemeliharaan. Tempat pemeliharaan ikan gurameh ada 2 macam : 1. Bak
2. Kolam alam (sawah, kolam tanah). Ternyata keuntungan yang diperoleh dari budidaya ikan gurameh cukup menggiurkan.ini adalah contoh berdasarkan pengalaman kami : 1 ekor bibitan : Rp 1000, Biaya pakan 1 ekor ikan per KG : Rp 7000-8000 dibulatkan Rp 7500, Berat ikan gurameh/1KG pakan adalah 7 ons/13 bulan, Harga 7 ons =Rp 15.000/KG (23-25ribu/KG), Harga Rp15.000 dikurangi biaya bibit dan pakan Rp 8500 adalah Rp 6500 keuntungan per ekor mencapai Rp 6500 Meskipun keuntungan tidak begitu besar, tapi budidaya ikan gurameh tidak merepotkan.Seperti contoh : sapi atau kambing, yang cukup merepotkan dengan penyediaan pakan.Budidaya ikan gurameh hanya cukup menyediakan pakan yang bisa di beli di toko dan memeperhatikan kualitas air, jika kotor di ganti. Tetapi jika ingin budidaya bermodal besar keuntungan pasti lebih banyak. Bila ingin informasi lebih lanjut tentang budidaya ikan gurameh dan membutuhkan bibitan ikan gurameh,bisa datang langsung ke alamat Bpk. nono sumarwoto Desa karanggedang Rt 02 Rw 04 Kec.Sruweng Kebumen No hp : 085293818661, 081280827474

Selasa, 20 September 2011

KEKERINGAN DI KECAMATAN SRUWENG, KEBUMEN

Desa Pengempon, Kecamatan Sruweng, Kabupaten Kebumen sudah dua bulan ini terpaksa menggunakan air dari selokan untuk memenuhi kebutuhan sehari - hari. Selokan yang menjadi tumpuan warga Gunung Tugel berada persis di bawah tebing pegunungan. Air rembesan yang menggenang di cekungan selokan, diciduk untuk dimasukan ke dalam jerigen. Menciduknya pun harus perlahan-lahan agar tidak keruh. Untuk mendapatkan air, warga pun harus antre. Air dari sini untuk semua kebutuhan, untuk minum hingga mandi. Biasanya dilakukan malam hari dengan penerangan obor daun kelapa kering. Di tengah krisis air bersih, warga hanya mendengar Pemerintah Kabupaten Kebumen memberi bantuan air bersih. Namun hingga kini, belum pernah ikut menikmati. Di Kecamatan Sruweng, krisis air bersih tidak hanya dialami warga Pengempon. Keterangan Camat Sruweng, Mulyadi, krisis air bersih juga di alami warga Desa Tanggerang, Karangjambu, Pakuran, Condong Campur, Pandansari, Lemah Rata, Sidoagung, Pandansari, Donosari, dan Penusupan. "Jumlah jiwa yang mengalami krisis air bersih di Kecamatan Sruweng ada seribu lebih," papar Mulyadi. Menurut Mulyadi, bantuan air bersih sudah menjangkau warga yang membutuhkan. Droping air bersih dilakukan seminggu sekali. Terkait dengan warga Pengempon yang belum tersentuh bantuan air bersih, dikatakan karena belum ada usulan dari pihak desa.

Rabu, 14 September 2011

PLESIRAN LEBARAN 2011

Ini lah oleh-oleh lebaran 1432 H  Bulan Agustus 2011 lebaran kur sedala nang desaku condong campur anu agi langka banyu, rong dina adus be sepisan. Mumpung masih bulan Syawal, (badan) Lebaran memang penuh kenangan, termasuk mengenang tradisi plesiran. Tradisi plesiran atau wisata saat lebaran yang tidak hanya di Sruweng, Pandansari, Condong Campur  tetapi hampir diseluruh Indonesia (mungkin, karena saya kebetulan belum pernah pergi kemana-mana. hehe). Karena ”kuper”nya saya, maka saya tak mau menulis tradisi plesiran diluar-luar sana. Saya hanya bisa menulis tradisi plesiran yang sepanjang saya tahu, terutama tradisi plesiran lebaran di Pandansari, Condong Campur dan sekitarnya. Plesiran lebaran di Kebumen yang sudah mentradisi adalah pergi ke obyek-obyek wisata. Daerah tujuan wisata terutama adalah pantai seperti Petanahan, Bocor, Puring, Rowo, Karangbolong, Suwuk dan Logending. Masing-masing pantai pun punya hari puncak sendiri-sendiri. Seperti Pantai Petanahan yang mencapai di hari ke 7, atau Pantai Rowo pada hari ke 8. Pandansari, Condong Campur  dulu punya tradisi plesiran lebaran, yaitu berwisata ke puncak pegunungan, yang orang menyebutnya Gunung Condong dan Gunung Pranji. Sampai sekitar tahun 1990an, lebaran menjadi puncak kunjungan wisata domestik ke gunung Condong, desa Condong Campur kecamatan Sruweng. Gunung Condong sebagai obyek wisata diserbu ribuan pengunjung dari berbagai desa, terutama dari kecamatan Karanggayam, Sruweng dan Pejagoan. Dari puncak gunung Condong pengunjung dapat menikmati pemandangan sampai batas cakrawala. Pengunjung juga dapat menelusuri hutan yang masih alami dan jika sedang beruntung dapat melihat kera-kera liar. Di samping itu, ada panggung hiburan yang biasanya menampilkan live musik dangdut. Di puncak Condong juga ada sebuah makam yang sangat dikeramatkan, tetapi saya tak tahu siapa tokoh yang dimakamkan di situ. Selepas obyek gunung Condong meredup karena pohon-pohon pinus ditebang oleh Perhutani pada sekitar tahun 1997an, wisata gunung beralih ke gunung Pranji yang ada di desa Pengaringan, kec. Pejagoan. Sama seperti gunung Condong, puncak Pranji menyajikan pemandangan eksotik dari puncaknya. Bahkan disamping hari lebaran, pada setiap malam minggu dan hari minggu puncak Pranji banyak dikunjungi wisatawan, terutama dari Kebumen termasuk anak-anak muda pecinta alam amatiran. Pada tanggal 17 Agustus 2010 kemarin, pecinta alam SMA 1 Kebumen (GASPALA) bahkan membentangkan bendera didinding tebing dengan pemanjatan yang sangat beresiko tinggi. Secara perlahan sejak 3 tahunan terakhir, plesiran ke gunung mulai kurang di minati. Puncak Pranji tak lagi ramai pengunjung. Tradisi plesiran lebaran tidak ada lagi. Padahal mereka tidak mengalihkan tradisi lebaran ke obyek wisata lain, seperti orang-orang desa Jemur yang mempunyai tradisi plesiran ke pantai misalnya. Orang-orang Pandansari  lebih memilih berkumpul di rumah berkumpul sama keluarga. Begitulah, tradisi plesiran lebaran. Sebagian orang seperti saya punya banyak kenangan ketika dulu setiap hari jalan kaki naik gunung ramai-ramai. Entah tradisi yang menyimpan banyak kenangan itu akan muncul lagi atau tidak, waktu yang akan menjawabnya. Yang menjadi pemikiran, bisakah tradisi plesiran itu hidup lagi? Ataukah mungkin dicari alternatif wisata baru di sekitar kita agar tradisi plesiran tidak hilang? Bagaimanapun, ada manfaat positif jika kita mampu mengangkat potensi lokal. Disamping mengenalkan daerah, juga memberi manfaat ekonomi pada masyarakat. Tentu jika kita mampu mengelolanya dengan baik. Sekedar pemikiran, perpaduan puncak Pranji dan gunung condong mungkin layak untuk dikelola menjadi magnet wisata lokal baru. Ini lah oleh-oleh lebaran 1432 H  bulan agustus 2011 lebaran kur sedala nang desaku condong campur anu agi langka banyu, rongdina adus be sepisan

Senin, 22 Agustus 2011

Lebaran sebentar lagi biasanya masyarakat kebumen khususnya di kecamatan sruweng, desa pandansari, desa kejawang, desa kuripan, desa karang gedang, desa krenceng, desa condong campur kebanyakan warga yang diperantauan sudah pada datang untuk pulang kampung dan bersilahturahmi, biasanya di musim lebaran banyak warga masyarakat kecamatan sruweng  mencari tempat wisata di musim lebaran terdapat beberapa tempat wisata yang layak untuk dikunjungi : Wisata pantai, Pantai Ayah/Logending, Pantai Pedalen, Pantai Karangbolong, Pantai Petanahan, Wisata goa, Goa Jatijajar, Goa Petruk, Goa Karangbolong, Wisata sejarah, Benteng Van Der Wijk Gombong, Wisata pegunungan, Pemandian air panas Krakal, Geologi alam Karangsambung, Wisata waduk, Waduk Sempor, Waduk Wadaslintang.  Kie sekilan info nggo masyarakat desa pandansari, desa kejawang, desa kuripan, desa karang gedang, desa krenceng, desa condong campur mbok arep pada plesir.